Direktur Kawasan Konservasi, Dyah Murtiningsih menyampaikan bahwa Management Effectiveness Tracking Tools (MEET) merupakan alat penilaian yang terstandar digunakan untuk menilai kinerja manajemen pengelolaan kawasan yang dilakukan oleh Balai besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS), sebagai alat untuk memetakan potensi dan ancaman, dan merupakan siklus manajemen monitoring dan evaluasi.

“METT berfungsi untuk mendiagnosa efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, juga merupakan Indikator Kinerja Utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan”, demikian Ia menyampaikan (15/5).

BBTNBKDS dengan menggandeng organisasi masyarakat sipil dan dinas-dinas pemerintahan terkait, melakukan kegiatan penilaian evaluasi pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), menggunakan METT, dilaksanakan di Kantor BBTNBKDS, Putussibau, selama dua hari, 15-16 Mei 2019.

Proses pengisian berlangsung dengan metode diskusi terbuka, dengan dipandu dua fasilitator, Albertus dan Ismet Khaerudin, dimana keduanya adalah praktisi lingkungan yang sudah tidak asing lagi jika berbicara mengenai pengelolaan lingkungan, terkhusus kawasan Taman nasional betung Kerihundan Danau Sentarum.

Dalam diskusi terbuka yang berlangsung disampaikan bahwa pelaksanaan program pembangunan di dalam kawasan taman nasional perlu perencanaan yang matang, supaya masyarakat yang berada di dalam kawasan mampu dan siap beradaptasi terhadap situasi yang berkembang di masa mendatang.

METT merupakan perangkat yang digunakan untuk mengevaluasi secara mandiri, yang dalam penerapannya telah digunakan secara Global di lebih 100 Negara.

“Indonesia telah menggunakan alat ini dari tahun 2006 hingga sekarang, dan BBTNBKDS terakhir melakukan penilaian di tahun 2017”, demikian disebutkan oleh Ardi Andono, selaku kepala bidang teknis BBTNBKDS saat memberikan penjelasan terkait tata cara pengisian instrument penilaian METT.

“Diperlukan mitigasi atau pencegahan untuk mengantisi pasiber bagai dampak”, demikian diucapkan oleh Ardi Andono.

“Pembentukan kelompok pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi oleh beberapa lembaga Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di beberapa desa yang berada di dalam kawasan taman nasional, sudah tepat dan sudah sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Pendek (RPJPn) pengelolaan kawasan taman nasional”, pungkasnya.

Terdapat tiga perangkat isian penilaian dalam METT, yaitu pelaporan kemajuan situs kawasan konservasi, ancaman kawasan konservasi, dan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi. Melalui hasil diskusi yang cukup panjang, dengan mendengarkan berbagai masukan dari berbagai pihak, pada proses penilaian, TNDS memperoleh nilai 81, dan TNBK memperoleh nilai 71, dari nilai standar minimal yang ditetapkan senilai 70.

[] Ignatius Noreng.

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.