Tepuai (21 – 22/ 11/ 2018) merupakan sebuah tema diskusi yang menarik untuk dibahas dalam upaya pengembangan pariwisata dalam koridor HoB (Heart of Borneo) yang mana pembahasan ini sendiri melibatkan 3 Negara sekaligus demi pengembangan kepariwisataannya (Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam). Diskusi ini sendiri merupakan kerja sama antara Kementerian Federal untuk Lingkungan, Konservasi Alam, Bangunan dan Keselamatan Nuklir (BMUB) Jerman dengan WWF. HoB dengan luas alam seluas 23 juta hektar dengan kawasan hutan yang utuh, yang merupakan rumah bagi jenis-jenis kehidupan liar yang beraneka ragam diharapkan dapat menjadi integritas konservasi, pembangunan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat di koridor Heart of Borneo (HoB) atau Jantung Borneo.

Dalam diskusi ini sendiri juga diharapkan Kapuas Hulu yang memiliki 2 Taman Nasional yaitu Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS) yang merupakan Cagar Biosfer pada International Coordinating Council Man and Biosphere, UNESCO di Palembang pada 25 Juli 2018 dan Ramsar Site kedua di Indonesia, diresmikan pada tahun 1994dengan luas 127,393.4 hektar dan 816,693.40 hektar, dapat menjadi potensi wisata di Kabupaten Kapuas Hulu. Segala keanekaragaman hayati, ekosistemdan budaya yang dimiliki oleh kedua daerah ini dianggap memiliki potensi yang sangat kuat dalam bidang kepariwisataannya.

Diskusi yang dilakukan kali ini, diharapkan para perwakilan negara, pelaku usaha sektor ekowisata (operator), dan perwakilan masyarakat di kedua negara yang menghadiri diskusi ini dapat menyepakatiCapaian utama dari diskusi ini untuk membangun kolaborasi para pihak untuk konsep yang ditawarkan. Dengan tujuan untuk:

  • Mendengarkan cerita sukses ekowisata, misalnya dari Banyuwangi yang cukup sukses mencuri wisata lokal dan asing yang biasanya mengunjungi Bali,
  • Mendengarkan cerita sukses dari tour operator tentang program ekowisata yang dikembangkan, termasuk tantangan ekowisata di Indonesia
  • Rencana pariwisata di Kalimantan, Indonesia, dan Sarawak, Malaysia tantangan dan kebutuhan dari operator wisata,
  • Pemetaan analisa (SWOT): identifikasi kebutuhan pengembangan (misalnya sarana, prasarana), kawasan wisata potensi, identifikasi gap dan kebutuhan pengembangan kapasitas dan tabel siapa melakukan apa.
  • Kesepakatan timeline, dan
  • Kunjungan lapangan.

Sekali lagi KOMPAKH ikut serta dalam pertemuan ini, sebagai salah satu pemateri yang menyampaikan tentang Tantangan dan pengembangan potensi ekowisata cross border. Dalam kesempatan ini KOMPAKH yang di wakili oleh Eduardus Ratungan sebagai diriktur, menyampaikan bahwa tantangan ekowisata Cross Border yang dihadapi saat ini adalah :

  • Pelayanan PLBN yang belum maksimal
  • SDM yang belum siap
  • 3 “A” yang belum optimal
  • Regulasi

Sedangkan potensi yang perlu dikembangkan adalah penambahan destinasi-destinasi unggulan untuk menarik wisatawan, baik itu potensi Budaya, Petualangan dan Alam.

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.